Likuiditas : Pengertian, Faktor, Risiko, Strategi dan Contohnya

Likuiditas : Pengertian, Faktor, Risiko, Strategi dan Contohnya

Likuiditas merupakan aspek fundamental dalam dunia keuangan yang menggambarkan kemampuan suatu entitas untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan cepat dan efisien tanpa menimbulkan kerugian signifikan terhadap aset yang dimiliki.

Dalam konteks manajemen keuangan, likuiditas sering menjadi indikator penting untuk menilai seberapa sehat arus kas dan kestabilan keuangan suatu perusahaan.

Perusahaan yang memiliki likuiditas baik umumnya mampu mengatasi kebutuhan mendesak seperti pembayaran utang, gaji karyawan, maupun biaya operasional tanpa harus melakukan penjualan aset secara tergesa-gesa.

Ketika tingkat likuiditas rendah, risiko ketidakmampuan membayar meningkat, yang pada akhirnya dapat mengganggu reputasi serta keberlangsungan bisnis.

Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara likuiditas yang cukup dan efisiensi penggunaan aset menjadi strategi utama dalam memastikan kelancaran aktivitas ekonomi dan kestabilan finansial jangka panjang.

Pengertian likuiditas dalam dunia keuangan

Likuiditas adalah kemampuan suatu individu, perusahaan, atau lembaga keuangan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset yang mudah dicairkan menjadi uang tunai tanpa menyebabkan penurunan nilai yang signifikan.

Konsep ini mencerminkan seberapa cepat dan efisien suatu aset dapat dikonversi menjadi kas untuk menutupi kebutuhan operasional, membayar utang, atau memenuhi pengeluaran mendesak lainnya.

Aset yang bersifat likuid, seperti uang tunai dan setara kas, menjadi elemen penting karena memberikan fleksibilitas tinggi dalam menghadapi fluktuasi ekonomi dan kebutuhan mendadak.

Dalam konteks perusahaan, tingkat likuiditas yang baik menunjukkan stabilitas keuangan dan kemampuan manajemen dalam mengelola arus kas secara efektif.

Sebaliknya, tingkat likuiditas yang rendah dapat menandakan potensi kesulitan keuangan, keterlambatan pembayaran, atau bahkan kebangkrutan apabila tidak segera diatasi dengan strategi keuangan yang tepat.

Faktor penentu tingkat likuiditas aset

Berikut faktor-faktor yang menjadi penentu tingkat likuiditas suatu aset dalam sistem keuangan dan pasar:

1. Kecepatan Konversi Menjadi Uang Tunai

Aset yang dapat dengan cepat diubah menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. Faktor kecepatan ini tergantung pada seberapa besar permintaan pasar terhadap aset tersebut serta kemudahan proses penjualannya.

Misalnya, uang tunai atau deposito jangka pendek jauh lebih mudah dicairkan dibandingkan properti atau surat berharga dengan jatuh tempo panjang.

Ketika aset dapat segera diperdagangkan tanpa hambatan administratif atau birokratis, maka fleksibilitas keuangan suatu entitas akan meningkat secara signifikan.

Kecepatan konversi juga berperan penting dalam menjaga arus kas agar tetap lancar saat menghadapi kebutuhan mendesak.

2. Volume dan Kedalaman Pasar

Tingkat likuiditas juga dipengaruhi oleh seberapa besar volume transaksi dan kedalaman pasar tempat aset diperdagangkan.

Aset dengan pasar yang aktif dan banyak pelaku akan lebih mudah diperjualbelikan tanpa mengalami perubahan harga yang besar.

Pasar yang likuid biasanya memiliki banyak pembeli dan penjual, sehingga proses transaksi dapat terjadi kapan saja dengan harga yang stabil.

Sebaliknya, pasar yang dangkal dengan sedikit pelaku menyebabkan aset sulit dijual cepat tanpa diskon besar terhadap harga wajarnya. Semakin dalam pasar suatu aset, semakin tinggi pula kepercayaan investor terhadap kestabilan nilai aset tersebut.

3. Stabilitas Nilai Aset di Pasar

Nilai suatu aset yang cenderung stabil di pasar mencerminkan tingkat likuiditas yang baik karena risiko fluktuasi harga lebih rendah.

Aset yang terlalu fluktuatif membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan pembeli dengan harga yang sesuai, sehingga menurunkan likuiditasnya.

Stabilitas nilai juga menunjukkan adanya kepercayaan dari pasar terhadap fundamental aset tersebut. Ketika nilai suatu aset mudah diprediksi dan tidak rentan terhadap perubahan ekstrem, maka aset tersebut lebih menarik untuk dimiliki dan dijadikan alat transaksi.

Faktor stabilitas inilah yang membuat aset seperti obligasi pemerintah dan deposito lebih likuid dibandingkan saham spekulatif atau komoditas berisiko tinggi.

4. Biaya dan Kemudahan Transaksi

Semakin rendah biaya transaksi dan semakin mudah proses penjualan atau pembelian suatu aset, semakin tinggi tingkat likuiditasnya.

Biaya yang dimaksud mencakup komisi, pajak, biaya administrasi, dan potongan harga saat penjualan dilakukan dengan cepat.

Aset yang membutuhkan prosedur panjang atau melibatkan pihak ketiga dalam proses penjualannya akan memiliki likuiditas yang lebih rendah.

Kemudahan akses terhadap platform perdagangan digital dan transparansi harga juga berperan penting dalam mempercepat transaksi.

Dalam konteks keuangan modern, efisiensi proses menjadi salah satu elemen utama dalam menjaga daya tarik likuiditas suatu instrumen investasi.

5. Risiko Pasar dan Kepercayaan Investor

Likuiditas erat kaitannya dengan persepsi risiko dan tingkat kepercayaan pelaku pasar terhadap suatu aset. Semakin tinggi risiko yang dirasakan, semakin kecil minat investor untuk memperdagangkannya, sehingga tingkat likuiditas menurun.

Aset dengan reputasi baik dan tingkat risiko rendah, seperti surat utang pemerintah atau saham perusahaan besar, cenderung lebih mudah dijual kapan saja.

Kepercayaan pasar terbentuk dari transparansi, kinerja historis, serta stabilitas ekonomi yang melingkupi aset tersebut. Ketika sentimen pasar positif, transaksi menjadi lebih aktif dan likuiditas meningkat secara alami karena permintaan yang kuat.

Hubungan likuiditas dengan stabilitas pasar

Berikut hubungan antara likuiditas dengan stabilitas pasar yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan sistem keuangan:

1. Likuiditas Tinggi Meningkatkan Kepercayaan Investor

Pasar dengan tingkat likuiditas tinggi menciptakan rasa aman bagi para investor karena transaksi dapat dilakukan dengan cepat tanpa memengaruhi harga secara signifikan.

Ketika investor yakin bahwa aset dapat dijual kapan saja dengan nilai wajar, maka kepercayaan terhadap pasar meningkat.

Keadaan ini mendorong lebih banyak partisipasi, memperluas volume transaksi, dan memperkuat stabilitas harga. Likuiditas yang baik juga menjadi sinyal bahwa pasar berfungsi dengan efisien, di mana permintaan dan penawaran dapat menyesuaikan diri secara alami.

Keterbukaan dan keyakinan investor terhadap kemampuan pasar untuk tetap aktif dalam kondisi ekonomi apa pun menjadi fondasi bagi kestabilan jangka panjang.

2. Likuiditas Rendah Memicu Volatilitas Harga

Ketika pasar mengalami kekurangan likuiditas, transaksi menjadi jarang dan harga dapat berfluktuasi tajam akibat ketidakseimbangan antara pembeli dan penjual.

Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang berpotensi memicu kepanikan dan aksi jual besar-besaran, yang pada akhirnya memperburuk ketidakstabilan pasar.

Kurangnya pelaku aktif dalam perdagangan membuat perubahan kecil dalam permintaan atau penawaran dapat memengaruhi harga secara ekstrem.

Investor cenderung menarik diri dari pasar yang tidak likuid karena khawatir sulit menjual aset saat dibutuhkan. Ketika volatilitas meningkat akibat rendahnya likuiditas, kepercayaan terhadap pasar menurun, dan kestabilan jangka panjang menjadi sulit dipertahankan.

3. Likuiditas Menjaga Kelancaran Transmisi Kebijakan Moneter

Ketersediaan likuiditas yang memadai memungkinkan kebijakan moneter seperti penurunan suku bunga atau intervensi pasar uang dapat berjalan lebih efektif.

Ketika sistem keuangan memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, instrumen moneter dapat terserap dengan baik tanpa menimbulkan distorsi harga yang berlebihan. Sebaliknya, pasar yang kering likuiditas akan sulit merespons kebijakan tersebut karena peredaran uang terhambat.

Bank dan lembaga keuangan juga lebih mudah menyalurkan kredit ketika likuiditas stabil, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi.

Hubungan antara efektivitas kebijakan moneter dan likuiditas menunjukkan bahwa stabilitas pasar tidak hanya bergantung pada faktor mikro, tetapi juga pada pengelolaan makroekonomi yang seimbang.

4. Likuiditas Mendukung Efisiensi Penentuan Harga Aset

Pasar yang likuid memungkinkan harga aset terbentuk secara adil berdasarkan kekuatan permintaan dan penawaran yang nyata.

Ketika likuiditas tinggi, setiap informasi baru dapat segera tercermin dalam harga pasar tanpa menyebabkan gejolak besar. Kondisi ini membantu menciptakan transparansi dan mencegah distorsi harga akibat spekulasi berlebihan.

Sebaliknya, pasar yang tidak likuid membuat harga aset sulit mencerminkan nilai fundamentalnya karena sedikitnya transaksi yang terjadi.

Efisiensi harga menjadi pondasi penting bagi stabilitas jangka panjang karena menciptakan kejelasan nilai dan mengurangi potensi manipulasi pasar oleh pihak tertentu.

5. Likuiditas Sebagai Penyangga Saat Krisis Keuangan

Pada masa krisis ekonomi, likuiditas berperan sebagai tameng yang mencegah kepanikan meluas di pasar. Ketika pelaku ekonomi masih dapat mengakses dana tunai dengan mudah, tekanan terhadap sistem keuangan dapat diredam sebelum berkembang menjadi resesi yang lebih dalam.

Pasar yang memiliki mekanisme likuiditas yang kuat mampu menjaga arus transaksi dan mencegah anjloknya nilai aset secara drastis.

Dalam konteks ini, intervensi otoritas keuangan melalui penyediaan likuiditas darurat sering menjadi langkah strategis untuk menenangkan pasar.

Likuiditas berfungsi bukan hanya sebagai alat stabilisasi sementara, tetapi juga sebagai fondasi yang menjaga kepercayaan dan keberlanjutan sistem ekonomi.

Kestabilan pasar sangat bergantung pada keseimbangan antara ketersediaan likuiditas dan kepercayaan pelaku ekonomi terhadap mekanisme perdagangan.

Ketika arus likuiditas lancar, pasar menjadi lebih tangguh menghadapi tekanan eksternal maupun gejolak ekonomi global.

Pengelolaan likuiditas yang cermat bukan hanya mendukung efisiensi transaksi, tetapi juga menjadi kunci utama dalam menjaga keutuhan dan daya tahan sistem keuangan secara menyeluruh.

Risiko krisis likuiditas internasional global

Berikut risiko yang dapat muncul akibat krisis likuiditas internasional dalam sistem keuangan global:

1. Gangguan Arus Modal Antarnegara

Krisis likuiditas global dapat menghambat pergerakan modal lintas batas karena lembaga keuangan menjadi lebih berhati-hati dalam menyalurkan dana.

Kondisi ini menyebabkan arus investasi langsung dan portofolio menurun tajam, terutama di negara berkembang yang sangat bergantung pada modal asing.

Ketika pasokan likuiditas global menyusut, biaya pendanaan meningkat dan proyek produktif terhambat karena sulit memperoleh pembiayaan.

Negara dengan cadangan devisa terbatas akan menghadapi tekanan besar terhadap nilai tukar dan stabilitas fiskal. Gangguan ini menciptakan efek domino yang melemahkan pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan.

2. Kenaikan Biaya Pinjaman Internasional

Krisis likuiditas menyebabkan permintaan terhadap aset aman meningkat, sementara ketersediaan dana pinjaman menurun.

Kondisi tersebut mendorong suku bunga global naik karena lembaga keuangan menyesuaikan risiko yang lebih tinggi. Negara dan perusahaan dengan tingkat utang luar negeri besar akan mengalami kesulitan membayar bunga dan melunasi kewajiban yang jatuh tempo.

Situasi ini memperburuk ketimpangan keuangan global karena entitas dengan reputasi rendah sulit mendapatkan akses kredit.

Dalam jangka panjang, kenaikan biaya pinjaman dapat memperlambat pemulihan ekonomi dan memperlebar kesenjangan antarnegara.

3. Penurunan Nilai Mata Uang Negara Berkembang

Krisis likuiditas sering diikuti oleh pelarian modal dari negara berkembang menuju aset-aset aman di negara maju. Tekanan ini menyebabkan nilai tukar melemah tajam dan volatilitas pasar meningkat.

Melemahnya mata uang berdampak langsung pada lonjakan harga impor, inflasi, dan penurunan daya beli masyarakat. Perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing akan menghadapi beban utang yang lebih besar.

Ketidakseimbangan ini dapat menimbulkan krisis kepercayaan terhadap ekonomi domestik dan mempercepat keluarnya modal secara besar-besaran.

4. Penurunan Likuiditas di Pasar Obligasi Global

Pasar obligasi merupakan salah satu sektor yang paling sensitif terhadap gangguan likuiditas. Ketika investor global menarik dana secara serentak, harga obligasi turun drastis dan yield meningkat tajam.

Perubahan mendadak ini menghambat pemerintah dan korporasi dalam menerbitkan surat utang baru untuk membiayai operasional.

Ketika permintaan menurun, pasar menjadi kering dan sulit menemukan pembeli untuk instrumen yang berisiko tinggi.

Akibatnya, kestabilan pasar keuangan global terganggu karena arus modal beralih secara tidak proporsional ke aset yang dianggap aman.

5. Potensi Kebangkrutan Lembaga Keuangan Internasional

Lembaga keuangan internasional seperti bank investasi dan perusahaan multinasional sangat rentan terhadap gangguan likuiditas karena ketergantungan pada pendanaan jangka pendek.

Ketika kepercayaan antarbank menurun, akses terhadap likuiditas global tertutup dan sistem perbankan dapat lumpuh. Efek berantai dari kebangkrutan satu lembaga besar dapat memicu krisis sistemik di berbagai negara melalui jalur perdagangan dan keuangan.

Penurunan nilai aset dan kegagalan pembayaran menciptakan ketidakpastian yang meluas di pasar global. Dalam skala besar, kejadian ini dapat menyeret ekonomi dunia ke dalam resesi yang mendalam.

Strategi meningkatkan likuiditas perusahaan besar

Berikut strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan likuiditas pada perusahaan besar agar tetap stabil dan kompetitif di tengah dinamika ekonomi global:

1. Optimalisasi Manajemen Kas dan Arus Keuangan

Pengelolaan kas yang efisien menjadi fondasi utama dalam menjaga likuiditas perusahaan besar. Setiap arus masuk dan keluar dana perlu diawasi secara ketat agar tidak terjadi ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran.

Penerapan sistem manajemen kas modern memungkinkan perusahaan memprediksi kebutuhan likuiditas jangka pendek dengan akurat serta menghindari risiko kekurangan dana.

Analisis rutin terhadap arus kas membantu menentukan kapan waktu terbaik untuk melakukan investasi atau menunda pengeluaran besar.

Dengan pengelolaan kas yang terencana, perusahaan dapat mempertahankan kestabilan operasional tanpa harus bergantung pada pinjaman mendesak.

2. Diversifikasi Sumber Pendanaan Eksternal

Perusahaan besar yang bergantung hanya pada satu sumber pendanaan akan lebih rentan terhadap guncangan pasar. Diversifikasi melalui penerbitan obligasi, pinjaman bank, serta akses ke pasar modal dapat memperluas likuiditas dan mengurangi risiko ketergantungan.

Pendekatan ini juga meningkatkan fleksibilitas finansial dalam menghadapi perubahan suku bunga atau kondisi ekonomi global.

Akses ke berbagai instrumen keuangan memungkinkan perusahaan menyesuaikan strategi pendanaan dengan kebutuhan jangka pendek maupun panjang.

Dengan struktur pendanaan yang beragam, perusahaan lebih mudah menjaga likuiditas tanpa mengorbankan profitabilitas.

3. Pengelolaan Piutang dan Utang Secara Efektif

Salah satu kunci menjaga likuiditas adalah mempercepat penerimaan kas dari piutang dan memperlambat pembayaran utang tanpa menimbulkan konflik dengan pemasok.

Perusahaan besar dapat menerapkan kebijakan kredit yang ketat, memperpendek jangka waktu pembayaran dari pelanggan, dan menggunakan sistem penagihan otomatis.

Di sisi lain, negosiasi dengan pemasok untuk memperpanjang termin pembayaran dapat membantu menjaga saldo kas tetap positif. K

eseimbangan antara pengelolaan piutang dan utang menciptakan stabilitas arus kas yang mendukung fleksibilitas operasional. Dengan manajemen yang disiplin, risiko kekurangan likuiditas dapat ditekan secara signifikan.

4. Pemanfaatan Aset Tidak Produktif untuk Dana Tunai

Perusahaan besar sering memiliki aset tetap atau investasi yang tidak lagi memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan.

Penjualan atau restrukturisasi aset-aset tersebut dapat menjadi sumber likuiditas tambahan tanpa harus meningkatkan utang.

Strategi ini juga membantu memperbaiki efisiensi penggunaan sumber daya dan meningkatkan rasio perputaran aset. Hasil dari penjualan aset tidak produktif dapat dialokasikan untuk memperkuat kas atau mendanai proyek dengan potensi keuntungan lebih tinggi.

Dengan demikian, perusahaan tidak hanya memperbaiki likuiditas, tetapi juga memperkuat posisi keuangannya di masa depan.

5. Penerapan Teknologi Finansial dalam Pengawasan Likuiditas

Transformasi digital dalam bidang keuangan memungkinkan perusahaan besar memantau kondisi likuiditas secara real-time dan membuat keputusan cepat berdasarkan data akurat.

Sistem keuangan berbasis teknologi seperti Enterprise Resource Planning (ERP) dan Artificial Intelligence (AI) dapat menganalisis pola arus kas serta memberikan peringatan dini terhadap potensi kekurangan likuiditas.

Penggunaan teknologi juga mempercepat proses rekonsiliasi keuangan dan mengurangi kesalahan manusia dalam pencatatan transaksi.

Dengan sistem yang terintegrasi, perusahaan dapat mengoptimalkan setiap keputusan finansial untuk menjaga keseimbangan kas.

Penerapan digitalisasi dalam keuangan menjadi langkah penting menuju efisiensi dan ketahanan likuiditas jangka panjang.

6. Menjaga Cadangan Kas dan Kredit Siaga

Perusahaan besar perlu memiliki cadangan kas yang cukup untuk menghadapi keadaan darurat atau fluktuasi ekonomi mendadak.

Selain itu, fasilitas kredit siaga dari lembaga keuangan memberikan ruang tambahan untuk mengatasi kekurangan dana sementara. Strategi ini menciptakan rasa aman dan memungkinkan manajemen mengambil keputusan tanpa tekanan waktu.

Cadangan kas yang proporsional juga menjadi indikator kepercayaan bagi investor dan kreditur terhadap stabilitas perusahaan.

Melalui disiplin pengelolaan dana cadangan, perusahaan dapat bertahan bahkan di tengah ketidakpastian global yang ekstrem.

Contoh kasus krisis likuiditas dunia

Berikut contoh kasus krisis likuiditas dunia yang pernah mengguncang sistem keuangan global dan memberikan pelajaran penting bagi stabilitas ekonomi internasional:

1. Krisis Keuangan Global Tahun 2008

Krisis keuangan tahun 2008 bermula dari kegagalan pasar hipotek subprime di Amerika Serikat yang menyebabkan runtuhnya lembaga keuangan besar seperti Lehman Brothers.

Ketika aset berbasis kredit macet kehilangan nilainya, kepercayaan antarbank menghilang dan sistem perbankan mengalami kekeringan likuiditas secara masif. Banyak perusahaan besar kesulitan memperoleh pendanaan karena lembaga keuangan enggan menyalurkan pinjaman.

Gelombang kebangkrutan meluas hingga sektor riil, menimbulkan pengangguran dan penurunan tajam pada konsumsi global.

Pemerintah di berbagai negara terpaksa melakukan intervensi besar-besaran melalui program bail-out dan pelonggaran moneter untuk memulihkan arus likuiditas.

2. Krisis Utang Eropa Tahun 2010–2012

Setelah krisis 2008, beberapa negara di kawasan Euro seperti Yunani, Spanyol, dan Italia menghadapi beban utang publik yang tidak terkendali.

Ketidakmampuan pemerintah membayar bunga utang memicu krisis kepercayaan di pasar obligasi Eropa. Lembaga keuangan enggan memegang surat utang negara berisiko tinggi, sehingga likuiditas di pasar keuangan Eropa menurun drastis.

European Central Bank (ECB) akhirnya meluncurkan program pembelian obligasi besar-besaran untuk menstabilkan pasar.

Krisis ini memperlihatkan bagaimana hubungan antara likuiditas dan kepercayaan investor dapat memengaruhi integritas ekonomi regional secara luas.

3. Krisis Nilai Tukar Asia Tahun 1997–1998

Krisis Asia dimulai dari Thailand setelah pemerintah tidak mampu mempertahankan nilai tukar baht terhadap dolar AS akibat kehabisan cadangan devisa.

Ketika investor asing menarik modalnya secara besar-besaran, pasar keuangan regional kehilangan likuiditas dan mata uang di berbagai negara Asia jatuh tajam. Dampaknya meluas ke Indonesia, Korea Selatan, dan Malaysia yang mengalami resesi dalam waktu singkat.

Bank-bank lokal gulung tikar karena gagal memenuhi kewajiban dalam mata uang asing. Krisis ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap modal jangka pendek asing dapat menciptakan kerentanan sistemik terhadap likuiditas internasional.

4. Krisis Likuiditas akibat Pandemi COVID-19 Tahun 2020

Ketika pandemi COVID-19 menyebar secara global, aktivitas ekonomi berhenti mendadak dan arus kas banyak perusahaan terhenti total.

Investor berbondong-bondong menarik dana dari pasar modal dan mengalihkan aset ke bentuk tunai, menyebabkan penurunan likuiditas di hampir semua instrumen keuangan.

Bank sentral di berbagai negara harus melakukan intervensi besar dengan menurunkan suku bunga dan menyuntikkan likuiditas dalam jumlah besar.

Perusahaan yang tidak memiliki cadangan kas cukup terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja dan menghentikan operasi.

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa krisis kesehatan dapat berkembang menjadi krisis likuiditas global yang melumpuhkan ekonomi.

5. Krisis Energi dan Likuiditas Global Tahun 2022

Lonjakan harga minyak dan gas akibat konflik geopolitik di Eropa Timur pada tahun 2022 menyebabkan ketegangan likuiditas di banyak negara.

Perusahaan energi menghadapi peningkatan biaya operasional, sementara bank dan investor menahan penyaluran modal karena ketidakpastian harga komoditas. Negara berkembang yang bergantung pada impor energi menghadapi tekanan berat terhadap cadangan devisa dan nilai tukar.

Arus perdagangan internasional melambat karena biaya logistik meningkat dan pembayaran antarnegara menjadi tersendat.

Krisis ini memperlihatkan bahwa faktor geopolitik dapat menjadi pemicu gangguan likuiditas global yang memengaruhi rantai pasok dan stabilitas pasar keuangan dunia.

Krisis-krisis tersebut menunjukkan bahwa gangguan likuiditas dapat muncul dari berbagai sumber, mulai dari sektor keuangan, kebijakan fiskal, hingga krisis kesehatan dan politik global.

Setiap krisis memberikan dampak berantai yang merusak stabilitas ekonomi internasional jika tidak segera ditangani dengan kebijakan yang terkoordinasi.

Pembelajaran utama dari peristiwa tersebut adalah pentingnya pengawasan sistem keuangan global dan kesiapan negara dalam menjaga cadangan likuiditas untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan.

Baca Juga : Cara Mengelola Likuiditas untuk Menghindari Risiko Keuangan Jangka Pendek

Bagikan:

Tags

Rita Elfianis

Menyukai hal yang berkaitan dengan bisnis dan strategi marketing. Semoga artikel yang disajikan bermanfaat ya...

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses