Bounce Rate Website: Definisi, Rumus, dan Cara Mengatasinya

Bounce Rate Website- Definisi, Rumus, dan Cara Mengatasinya

Apakah ada yang belum memahami tentang pengertian bounce rate website?

Cukup disayangkan karena pengetahuan ini sangat penting, terutama bagi Anda yang kesehariannya berkutat dengan website maupun blog.

Di zaman serba digital ini, sebuah website atau blog tidak hanya berfungsi sebagai sarana menulis maupun menyampaikan ide pemikiran saja.

Namun, sudah merambah hingga dunia bisnis, yakni sebagai sarana promosi sehingga dapat memperluas jangkauan usaha.

Apa itu Bounce Rate Website?

Apa itu Bounce Rate Website?

Maka dari itu, mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan website seolah sudah menjadi sebuah kewajiban. S

ebab, untuk memperoleh hasil yang maksimal dari website, Anda harus mampu mengoptimalkan kinerjanya.

Lantas, apa makna bounce rate?

Secara sederhana, bounce rate adalah persentase yang memberi gambaran mengenai seberapa lama visitor berada di sebuah website.

Namun, bounce rate ini lebih fokus pada visitor yang meninggalkan website lebih cepat.

Anda dapat menganggap website itu seperti sebuah stand produk di sebuah pameran atau bazar.

Tentu tidak sedikit pengunjung yang akan datang untuk melihat-lihat produk apa saja yang tersedia di stand tersebut, bukan?

Saat pengunjung merasa betah berada di dalam stand, tentu besar kemungkinan akan menciptakan closing atau penjualan.

Begitu juga sebaliknya, semakin cepat pengunjung pergi tanpa membeli, menandakan bahwa ada sesuatu yang kurang atau salah pada stand tersebut.

Fungsi Bounce Rate

Fungsi Bounce Rate

Kondisi ini tentu harus cepat diatasi atau usaha Anda terancam gulung tikar, karena tidak mencapai target penjualan.

Berdasarkan penggambaran di atas, maka fungsi dari bounce rate website sendiri meliputi:

1. Sebagai Indikator Kualitas Website

Sampai detik ini, bounce rate mempunyai fungsi utama sebagai indikator mengenai kualitas website atau blog.

Nilai dari persentase ini akan memberi dampak yang cukup signifikan, baik pada kemajuan website hingga keberhasilan bisnis.

2. Meningkatkan Kepercayaan Mesin Pencari

Saat sebuah website mempunyai nilai baik, sedikit banyak hal ini akan mempengaruhi kepercayaan mesin pencari atau rating.

Hal tersebut tentu akan menguntungkan Anda, baik sebagai pelaku usaha maupun blogger.

3. Evaluasi

Dengan mengetahui jumlah dan durasi visitor saat mengunjungi website, Anda dapat mengevaluasi semua hal yang mempengaruhi nilai tersebut.

Hasil dari evaluasi tersebut dapat Anda gunakan untuk menentukan strategi lanjutan.

4. Bounce Rate Website untuk Menentukan Strategi

Ada banyak cara dalam meningkatkan kualitas website pada mesin pencari, seperti teknik SEO, penggunaan backlink, dan lain-lain.

Anda juga dapat menggunakan persentase dari bounce rate dalam menentukan strategi mana yang cocok website.

Berapa Bounce Rate yang Bagus?

Berapa Bounce Rate yang Bagus?

Menilik dari fungsi di atas mungkin Anda bertanya-tanya, berapakah persentase bounce rate pada sebuah website yang baik?

Sayangnya, tidak ada nilai pasti mengenai hal ini, karena ada banyak hal yang mempengaruhi bounce rate.

Namun beberapa sumber mengatakan, jika persentase bounce rate rata-rata berada di angka 41% hingga 51%.

Parameter ini juga belum dapat menjadi patokan karena jenis atau kategori website turut menentukan tinggi rendahnya persentase.

Menurut data Custom Media Labs, website untuk tujuan retail dan ecommerce mempunyai nilai rata-rata sebesar 20-45%.

Sementara itu, khusus jenis website “lead generation” memiliki bounce rate sekitar 30 hingga 55 persen.

Lain hal dengan website kategori landing page, maka bounce rate-nya semakin tinggi, yakni antara 60 hingga 90%.

Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui berapa persentase bounce rate yang normal untuk website atau blog.

Rumus untuk Menghitung Bounce Rate

Rumus untuk Menghitung Bounce Rate

Setelah mengetahui nilai rata-rata normal bounce rate, Anda dapat mulai menghitung persentase berdasarkan cara kerjanya.

Adapun rumus untuk menghitung bounce rate pada sebuah website atau blog, yakni:

Bounce Rate = (jumlah visitor yang mengunjungi satu laman / jumlah total visitor pada suatu periode) x 100%

Contoh:

Dalam satu periode (biasanya dihitung per bulan), website Anda mendapat kunjungan sebanyak 10 ribu pengunjung. Sementara itu, total visitor yang hanya membuka satu laman saja ada 5 ribu. Berapa persentase bounce rate website tersebut?

Bounce Rate = (5.000 / 10.000) x 100 % = 50%

Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa persentase bounce rate-nya adalah 50%.

Apabila website Anda termasuk jenis retail yang memiliki batas normal sekitar 20-45%, tentu persentase di atas menunjukkan nilai buruk.

Cara Mengecek Bounce Rate Melalui Google Analytics

Cara Mengecek Bounce Rate Melalui Google Analytics

Selain melakukan penghitungan dengan cara di atas, Anda juga dapat mengecek bounce rate melalui beragam cara.

Salah satunya, yakni melalui laman gratis Google Analytics dengan mengikuti step by step berikut ini:

  • Pertama-tama, pastikan website sudah terkoneksi dengan Google Analytics.
  • Jika sudah, masuklah ke layanan tersebut, kemudian klik pada nama
  • Halaman muka dari Google Analytics akan menampilkan bounce rate secara keseluruhan.
  • Apabila Anda ingin melihat secara lebih detail dan lengkap, silakan lanjutkan dengan klik pada menu Behavior, kemudian pilih Overview. Sistem akan menampilkan ringkasan dari performa website, termasuk nilai bounce rate.

Untuk mengetahui bounce rate pada setiap laman atau konten, silakan klik link yang mengarah ke artikel tersebut.

Dari sini Anda akan mengetahui jumlah rasio pantulan yang diperoleh laman tersebut beserta beberapa data lain.

Faktor yang Mempengaruhi Bounce Rate

Faktor yang Mempengaruhi Bounce Rate

Meski cara kerja bounce rate berdasarkan jumlah dan waktu kunjungan, tetapi hal tersebut bukanlah faktor utama.

Sebab, masih ada banyak hal yang turut mempengaruhi besar kecil persentase tersebut, beberapa di antaranya:

1. Desain Website

Sebelum mengunjungi sebuah toko, pasti Anda akan melihat display terlebih dahulu, bukan?

Apabila display rapi, bersih, dan menarik, tentu akan membuat visitor menjadi nyaman dan betah untuk berlama-lama di website.

2. Konten

Konten atau artikel adalah informasi atau produk yang visitor ingin ketahui. Unggahan yang informatif, lengkap, dan mengalir akan menjadi daya tarik utama.

Tak hanya memperoleh informasi yang dicari, konten berkualitas juga membuka peluang bagi visitor untuk mengunjungi konten lainnya.

3. Kecepatan Loading

Salah satu hal yang sangat vital pada sebuah website adalah kecepatan loading.

Website yang terlalu lama merespon tindakan akan membuat visitor jengah dan memutuskan untuk meninggalkannya, bahkan belum sampai 10 detik.

Baca Juga : 10+ Cara Mempercepat Loading Website

4. Linking

Di dalam website, link berfungsi untuk memudahkan visitor dalam melakukan pencarian informasi lebih lanjut.

Maka dari itu, para blogger senantiasa menyelipkan link untuk menuju tempat lain pada setiap konten atau artikel.

5. Peringkat Halaman

Saat sebuah website mampu masuk ke laman pertama pada mesin pencari, maka besar kemungkinan akan memperoleh visitor.

Itu artinya, peringkat halaman juga turut mempengaruhi persentase bounce rate pada sebuah website.

6. Iklan

Tak dimungkiri, kehadiran iklan memang menjadi salah satu sumber penghasilan sebuah website.

Namun, ketidaktepatan peletakan iklan justru dapat menjadi sumber masalah tersendiri, apalagi sampai menutupi isi konten.

7. Tipe Audiens

Lama waktu kunjungan juga bergantung pada tipe audiens yang mengunjungi website tersebut.

Ada audiens yang memang tidak sabaran untuk menunggu waktu loading atau hanya mencari titik poin pentingnya saja.

Trik Turunkan Bounce Rate

Perlu diketahui, semakin tinggi persentase bounce rate menandakan jika kualitas dari website tersebut justru kurang baik.

Jangan biarkan hal ini berlarut-larut karena menentukan nasib website dan bisnis Anda ke depannya.

Tidak perlu cemas, ikuti trik berikut untuk menurunkannya:

1. Perbaiki Desain Website

Perbaiki Desain Website

Agar website menarik banyak visitor, Anda harus menyajikan display yang terbaik.

Bukan hanya bagian-bagiannya yang terstruktur, tetapi juga nyaman di mata. Dalam hal ini, pemilihan warna dan desain menjadi penentu utama.

Perhatikan juga peletakan fitur atau menu pada website, jangan sampai berantakan atau sulit untuk dijangkau.

Apalagi website dengan tujuan bisnis atau menjual produk, maka peletakan menu ini menjadi salah satu kunci penting untuk menciptakan closing.

Saat ini pengguna internet lebih banyak menggunakan smartphone untuk mencari informasi.

Anda dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mendongkrak popularitas website dan bounce rate.

Caranya, yakni dengan menyuguhkan website yang mobile friendly.

2. Buat Konten Sesuai Search Intent

Buat Konten Sesuai Search Intent

Adapun makna dari search intent adalah niat atau maksud visitor, saat mengetikkan kata kunci pada kolom pencarian.

Search intent ini sangat mempengaruhi durasi atau lamanya waktu kunjungan serta kepercayaan visitor.

Bayangkan, saat ingin mengetahui sesuatu hal, tentu visitor akan mengetikkan sebuah kata kunci yang relevan dengan tujuannya.

Setelah muncul dan membacanya sekilas, ternyata isi dari konten tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi. Apa yang kira-kira akan mereka lakukan?

Tindakan yang pasti akan terjadi adalah mereka akan menutup halaman Anda dan beralih ke konten lainnya.

Dalam beberapa kasus, visitor bahkan mengingat nama website dan memutuskan untuk tidak akan mengunjunginya lagi.

Rasanya sangat wajar, jika search intent menjadi salah satu komponen penting yang turut menentukan bounce rate.

Sebagai pemilik website, penting bagi Anda untuk mempelajari tentang hal-hal yang berkaitan dengan search intent, seperti penggunaan keyword atau kata kunci.

3. Pilih Topik yang Relevan

Pilih Topik yang Relevan

Pasalnya, kata kunci ini juga sangat mempengaruhi persentase dari bounce rate website.

Trafik dari keyword yang tidak berkaitan sama sekali dengan produk yang ditawarkan, kemungkinan besar akan melejitkan bounce rate.

Maka dari itu, volume pencarian bukanlah satu-satunya acuan saat Anda akan menentukan keyword atau kata kunci untuk sebuah konten.

Namun, penting juga memperhatikan relevansi antara kata kunci tersebut dengan niche atau produk yang dijual.

Misal, produk yang Anda jual adalah skincare, tentu tidak “nyambung” apabila konten membahas tentang donat mie yang sedang booming, bukan?

Mungkin topik tersebut memang dapat menciptakan traffic yang tinggi, tetapi sayangnya juga diikuti oleh bounce rate.

Alasannya simpel, yakni topik yang tidak sesuai dengan produk. Alih-alih mempertaruhkan nasib website, lebih baik Anda mencari topik yang relevan.

Misalnya, topik yang membahas tentang kesehatan kulit, kandungan yang baik untuk kecantikan dan lain-lain.

4. Meningkatkan Kualitas Konten

Meningkatkan Kualitas Konten

Meski visitor sudah mengunjungi website, belum tentu mereka akan membaca konten sampai selesai.

Semua tergantung dari isi dan penyusunannya, sehingga Anda harus memastikan jika konten tersebut berkualitas. Caranya dapat dengan menerapkan trik-trik berikut ini:

  • Bagi konten dalam beberapa paragraf pendek agar visitor lebih mudah untuk membacanya.
  • Buat sub-heading untuk memberi “rambu-rambu” mengenai poin dari isi konten.
  • Berikan headline yang kuat dan membuat penasaran.

Ingat, konten Anda bukanlah satu-satunya artikel yang ada di mesin pencarian.

Untuk menyajikan konten berkualitas, Anda dapat menambahkan visual yang menarik, seperti grafik, gambar ilustrasi, maupun video.

5. Optimalkan Load Speed

Optimalkan Load Speed

Seperti yang sudah disebutkan di atas, kecepatan loading sangat mempengaruhi bounce rate, bahkan dalam hitungan detik.

Itu artinya, Anda harus meningkatkan load speed agar visitor tidak menghabiskan banyak waktu untuk menunggu laman terbuka.

Sebaik apapun konten yang tersaji, visitor tidak memberikan toleransi untuk kecepatan loading yang lambat.

Menurut informasi dari pihak Google, konon 53% pengguna internet akan meninggalkan website dengan kecepatan loading lebih dari 3 detik.

Lebih dari itu, sekitar 79% visitor menyatakan kekecewaan terhadap website dengan kecepatan lambat dan tidak akan kembali lagi.

Hal ini tentu akan sangat merugikan Anda, baik dalam jangka waktu dekat maupun lama.

6. Manfaatkan Fitur ‘Open Link in New Tab’

Manfaatkan Fitur ‘Open Link in New Tab’

Dalam beberapa kesempatan, WordPress acapkali mengatur visitor untuk membuka tautan di tab yang sama dengan halaman terbuka.

Hal semacam ini terkadang membuat bosan karena visitor harus mengklik tombol back berkali-kali untuk kembali ke halaman awal.

Coba Anda bayangkan, apabila hal tersebut harus terjadi sebanyak 5x, pasti akan sangat melelahkan, bukan?

Jangan menyalahkan visitor, apabila exit rate dan bounce rate dari website Anda akan terus mengalami peningkatan.

Solusinya adalah dengan menerapkan fitur ‘Open Link in New Tab’ atau tautan yang mengarahkan visitor ke tab baru.

Dengan demikian, visitor tidak perlu menekan tombol back berulang kali untuk kembali ke halaman pertama.

Anda dapat menggunakan bantuan dari beberapa plug in untuk memudahkan pengaturan atau bahkan memodifikasinya.

Trik sederhana ini dapat menurunkan persentase bounce rate karena visitor akan semakin lama berada di website.

7. Terapkan Pop Up Secukupnya

Terapkan Pop Up Secukupnya

Selayaknya iklan, pop up memang dapat membantu Anda untuk mendapatkan leads melalui subsciber blog maupun newsletter. Namun di lain sisi, tidak sedikit visitor yang merasa terganggu dengan keberadaan pop up.

Jika memang ingin menerapkan pop up pada website, jangan berlebihan atau sewajarnya saja. Adapun makna berlebihan di sini adalah visitor disuguhi pop up secara terus menerus atau setiap beberapa menit sekali.

Tentu tidak mengherankan, jika mereka memutuskan untuk menutup laman dan pindah ke tempat lain.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menyatakan, bahwa ada sekitar 70% visitor merasa jengkel dengan keberadaan pop up yang berlebihan dan tidak relevan.

8. Tunjukkan Kredibilitas Website

Tunjukkan Kredibilitas Website

Saat mencari bahan bacaan di internet, tentu saja visitor ingin memperoleh informasi dari sumber yang kredibel dan terpercaya, bukan abal-abal.

Oleh karena itu, tunjukkan kredibilitas Anda sebagai website yang profesional dan terpercaya.

Caranya dengan menerapkan tema profesional dengan bentuk antarmuka yang sederhana, meski tidak harus selalu berbayar.

Bukti kredibilitas juga dapat Anda tunjukkan dengan menampilkan profil pemilik maupun portofolio (jika termasuk website bisnis).

9. Cegah Terjadinya Blank Page

Cegah Terjadinya Blank Page

Blank page adalah halaman kosong, dimana saat Anda mengklik sebuah laman akan muncul notifikasi “Error 404 Not Found”.

Kondisi ini sangat mempengaruhi bounce rate website, karena visitor tidak dapat menemukan informasi apapun.

Sayangnya, para blogger acapkali tidak menyadari apabila laman mereka mengalami blank page.

Itu artinya, Anda harus lebih waspada lagi agar blank page dapat teratasi secepat mungkin. Pasalnya, dalam waktu lebih lanjut, blank page juga dapat menurunkan peringkat website.

Mengingat fungsinya yang sangat krusial, Anda harus melakukan pengecekan dan pemantauan secara berkala.

Bounce rate website yang tinggi menjadi indikator bahwa Anda membutuhkan formula dan strategi baru untuk mempertahankan peringkat serta kelangsungan bisnis.

Baca Juga : Cara Menurunkan Bounce Rate Website

Bagikan:

Tags

Joko Warino

Seorang praktisi SEO (Search Engine Optimization) dari tahun 2013 yang selalu berusaha meningkatkan kemampuan seiring dengan perubahan logaritma yang dilakukan oleh Google.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.