Apa itu Unsubscribe Rate? Ini dia Pengertian dan Cara Mengatasinya

Apa itu Unsubscribe Rate Ini dia Pengertian dan Cara Mengatasinya

Apa itu unsubscribe rate? Saat ini berbagai jenis digital marketing dikemas ke dalam video marketing, content marketing, email marketing, dan lain sebagainya.

Jenis-jenis metode marketing tersebut adalah strategi ampuh untuk menaikkan omset bisnis.

Unsubscribe rate merupakan suatu hal yang sangat dihindari oleh para pengelola website bisnis.

Jika jumlah subscribe rate terus meningkat, maka hal ini dapat menimbulkan kemorosatan pelanggan.

Oleh karena itu, penting sekali memanfaatkan tools email marketing untuk berkomunikasi dengan konsumen.

Apa itu Unsubscribe Rate?

Apa itu Unsubscribe Rate

Apa itu unsubscribe rate?

Unsubscribe rate merupakan suatu tolak ukur dalam menampilkan persentase pengguna yang memilih keluar dari deretan penerima email.

Jumlah pengguna yang memilih berhenti berlangganan tentunya sangat berpengaruh pada total pengiriman email.

Oleh karena itu, semakin banyak jumlah pengguna yang menyudahi berlangganan, semakin besar pula dampak negatif yang akan timbul dari penyedia layanan seperti Yahoo, Gmail, atau Outlook.

Perlu diketahui bahwa persentase unsubscribe rate dihitung berdasarkan cara membagi jumlah pengguna yang stop berlangganan dengan total email yang dikirim.

Kemudian, dikalikan dengan seratus. Agar lebih paham, berikut adalah calculate unsubscribe rate:

Unsubscribe Rate  = (total konsumen / total email yang terkirim) x 100

Perlu diketahui bahwa rumus yang dijelaskan di atas dapat membantu Anda untuk mengetahui total persen dari orang yang melakukan unsubscribe.

Dengan memakai rumus tersebut, maka Anda dapat menentukan evaluasi tentang strategi yang perlu diupayakan selanjutnya untuk meminimalisir jumlah unsubscribe rate di kemudian hari.

Cara Jitu Mengurangi Unsubscribe Rate

Setelah menyimak penjelasan tentang apa itu unsubscribe rate?,

Tentu Anda memahami bahwa unsubscribe rate adalah suatu hal yang harus dihindari oleh para pemilik website.

Oleh karena itu, penting sekali untuk menerapkan strategi jitu agar jumlah subscribe tidak berkurang, melainkan terus bertambah.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan di antaranya sebagai berikut:

1. Gunakan Domain Email Profesional

Gunakan Domain Email Profesional

Mengirim pesan newsletter kepada konsumen dengan memakai domain email gratis seperti gmail atau yahoo mungkin tidak ada salahnya.

Namun, perlu diketahui bahwa email bisnis yang menggunakan domain gratisan sering disinyalir sebagai spam.

Bukan hanya itu, menggunakan gmail dan yahoo untuk bisnis juga dapat mengurangi kesan profesional dan kredibel pada perusahaan Anda.

Oleh karena itu, demi meningkatkan kepercayaan konsumen kepada perusahaan, sebaiknya gunakanlah email yang dapat mewakili branding perusahaan.

Contohnya seperti @julukan/nama perusahaan. Hal ini sangat direkomendasikan untuk mendukung kinerja newsletter agar berjalan lancar.

Dengan demikian, maka para konsumen akan lebih mudah menerima email dan tidak akan terburu-buru menganggap newsletter yang dikirim tersebut sebagai spam.

Berdasarkan peninjauan online yang diadakan oleh Verisign, hasilnya menunjukkan bahwa 71% bisnis golongan menengah menganggap bahwa email dengan alamat domain perusahaan dapat mengoptimalkan rasa kepercayaan dari calon konsumen dan meningkatkan kredibilitas perusahaan.

Harapan yang paling diinginkan jika berlangganan domain email profesional adalah bisa meningkatkan atau setidaknya mempertahankan angka subscribe rate.

Pastinya, sudah banyak developer yang menyediakan jasa domain email profesional sehingga Anda bisa menggunakannya untuk bisnis.

2. Ciptakan Subjek Email yang Kreatif

Ciptakan Subjek Email yang Kreatif

Cara meminimalkan unsubscribe rate yang berikutnya adalah dengan membuat subjek email yang kreatif dan menarik.

Saat memeriksa inbox email, hal menarik yang menjadi perhatian utama ialah subjek email.

Jika subjek email dibuat dengan panjang, maka cenderung akan membuat calon konsumen merasa bosan dan risih meskipun hanya membaca subjeknya saja.

Bahkan, tidak jarang email yang dikirim tersebut akan dianggap sebagai spam.

Oleh karena itu, sebagai upaya meminimalisir unsubscribe rate, maka sajikan subjek email yang singkat, jelas, dan padat.

Subjek email juga harus memuat informasi yang to the point, dan langsung mudah dipahami oleh pembacanya.

Hindarilah pemakaian huruf kapital atau tanda seru. Pasalnya, jika dilihat dari segi psikologi pemasaran, hal itu seakan “memaksa” pengguna email untuk bertindak sesuai keinginan Anda.

Sebagai alternatifnya, gunakanlah ungkapan yang ramah, enak dibaca, dan tentunya bersahabat.

Selain itu, hindarilah pemakaian kata-kata yang menunjukkan bahwa Anda sedang promosi secara terang-terangan.

Hal ini akan membuat calon konsumen menjadi enggan untuk membuka email dikarenakan mereka menganggap bahwa newsletter tersebut hanya memuat promosi bisnis yang tidak penting.

Di sinilah sangat diperlukan kemampuan mengolah kata yang tepat atau copywriting.

Dengan menggunakan strategi copywriting, maka subjek email yang dibuat akan lebih menarik bagi calon konsumen.

3. Tampilkan Copywriting yang Menarik

Tampilkan Copywriting yang Menarik

Copywriting memang sangat dibutuhkan untuk menunjang berbagai bisnis copywriting sebagai suatu metode penulisan untuk mempengaruhi konsumen bisa dimanfaatkan untuk menarik minat pembaca email.

Perlu diketahui bahwa ilmu copywriting tidak hanya sekadar ilmu merangkai kata. Di dalamnya terdapat teknik-teknik khusus yang bisa disesuaikan dengan jenis dan model bisnis.

Aneka ragam copywriting tersebut yakni seperti Urgent Headline, Question Headline, Personal Headline, Curiosity Headline, News Headline, Benefit Headline, Inspirational Headline, Statistical Headline, Command Headline, Claim Headline, Testimonial Headline, dan masih banyak lagi.

Jadi, agar dapat menghasilkan tulisan copywriting yang menarik, maka lakukanlah analisis terhadap kebutuhan konsumen dan terapkan pedoman “riding the wave” atau manfaatkan peluang tren untuk menarik pembaca email agar bersedia take action.

4. Masukkan Call to Action pada Email

Masukkan Call to Action pada Email

Setelah memahami apa itu unsubscribe rate? dan cara sebelumnya, langkah berikutnya yakni masukkan CTA atau call to action pada email yang dibuat.

Email newsletter sebaiknya tidak hanya memberi informasi yang bermanfaat untuk konsumen, tetapi juga dapat menyertakan link atau tautan ke laman lain dalam rangka melengkapi info tersebut.

Adapun tautan di email bisa dimasukkan melalui CTA. CTA yang terkoneksi di email bisa membantu Anda untuk memaksimalkan daily active users, konversi penjualan, bahkan sampai meminimalisir total unsubscribe rate email perusahaan.

Dalam email bisnis, umumnya CTA dipakai untuk maksud yang bermacam-macam.

Beberapa CTA digunakan untuk tujuan lead nurturing, lead generation, promosi event, mengisi formulir, tombol “baca selengkapnya”, menawarkan produk, hingga social sharing.

5. Input Gambar ke Email

Input Gambar ke Email

Langkah berikutnya untuk mengurangi jumlah unsubscribe rate adalah dengan menyertakan gambar pada email.

Perlu diketahui bahwa jika email newsletter hanya memuat tulisan saja, maka akan membuat pembaca mudah bosan dan mengantuk.

Lain halnya jika tulisan di dalam email juga disertai dengan gambar yang mendukung, maka mata pembaca akan lebih “terbuka” alias tertarik untuk membacanya dari awal hingga akhir.

Cukup tambahkan 1 atau 2 gambar saja untuk menimbulkan efek “antusias” dari calon konsumen melalui isi email.

Gambar yang warnanya bertema warm atau netral menimbulkan kesan yang nyaman untuk dibaca.

Fakta ini didukung dengan data yang diperoleh oleh Neil Patel. Data tersebut menyatakan bahwa 85% seseorang membeli suatu produk karena warna.

Pemilihan warna untuk gambar di email juga bisa didasarkan pada gender.

Misalnya, wanita cenderung senang dengan warna putih, ungu, biru, atau hijau. Jadi, untuk menarik perhatian konsumen wanita, maka Anda bisa menyertakan unsur warna tersebut pada gambar email.

Adapun kebanyakan laki-laki lebih suka dengan warna hitam, merah, coklat, dan biru.

Oleh sebab itu, jika ingin menarik perhatian pembaca laki-laki, maka gunakan unsur warna itu dalam gambar email Anda.

6. Perhatikan Jangka Waktu Pengiriman Email

Perhatikan Jangka Waktu Pengiriman Email

Upaya lain yang sangat penting diperhatikan bagi pengelola newsletter email adalah frekuensi pengiriman email.

Sangat penting bagi sebuah perusahaan untuk mengkalkulasi jumlah pengiriman email setiap harinya kepada konsumen.

Sebab, jika dalam sehari atau seminggu mengirimkan email terlalu banyak, maka akan membuat konsumen merasa terganggu dan tidak nyaman menerima email Anda.

Akibatnya, tentu sudah bisa ditebak, yakni email Anda akan diblokir atau dimasukkan spam.

Selain memperoleh ancaman unsubscribe, pengiriman surel yang terlalu banyak dalam suatu frekuensi bisa mengakibatkan email digolongkan sebagai spam.

Oleh karena itu, sebaiknya email perusahaan dikirimkan kepada pelanggan sebanyak 5-8 kali dalam sebulan.

Selain itu, perusahaan juga bisa melakukan peninjauan untuk mengetahui feedback dari konsumen pada email yang telah diterima.

Akan lebih baik jika perusahaan mampu menjauhi email blast. Sebab, strategi tersebut akan sangat berpengaruh terhadap naiknya jumlah unsubscribe rate.

Oleh karena itu, sebaiknya kirimlah email hanya kepada target audiens yang sesuai dengan segmentasi untuk memaksimalkan open rate pada email.

7. Menerapkan Split Testing

Menerapkan Split Testing

Menerapkan split testing untuk email sangat bermanfaat untuk meminimalkan unsubscribe rate.

Sebab, dengan menerapkan split testing, maka bisa diketahui karakteristik email yang paling relate dan disukai oleh konsumen.

Dalam menerapkan cara ini, Anda bisa mengkategorikan penerima email menjadi dua atau tiga segmen.

Masing-masing dari segmentasi akan mendapat email berbeda sesuai dengan kecenderungan mereka.

User segmentasi akan sangat memudahkan email newsletter untuk menjangkau target konsumen yang tepat.

User segmentasi bisa dilakukan dengan menerapkan beberapa parameter, seperti lokasi, industri, minat, hobi, pekerjaan, atau konten favorit mereka.

Contohnya, email newsletter tentang acara festival Jepang di Surabaya yang hanya dikirimkan kepada calon konsumen otaku atau penggemar Jepang yang berada di kawasan Surabaya dan sekitarnya.

Dengan menerapkan cara ini, audiens akan lebih merasa tertarik karena bisa mengikuti acara tersebut untuk mengikuti rangkaian acara dan membeli berbagai merchandise.

Untuk ke depannya, konsumen tidak akan melakukan pemblokiran atau unsubscribe karena menilai bahwa email newsletter yang dikirim tersebut bermanfaat untuk mereka.

Variasi ini didasarkan pada perbedaan call to action, subject lines, body message, sampai desain email.

Dari segmentasi yang dibuat tersebut, maka Anda bisa mengetahui jenis email yang mempunyai open rate tertinggi untuk dijadikan sebagai pedoman dalam membuat strategi newsletter yang berikutnya.

8. Buat Email Lebih Responsif

Buat Email Lebih Responsif

Cara mengurangi jumlah unsubscribe rate yang berikutnya yakni dengan membuat email secara responsif.

Saat mendesain email, ada baiknya jika Anda mempertimbangkan supaya desain tersebut bersifat responsif, dalam artian bisa dibuka dari mobile atau desktop.

Sebab, umumnya banyak konsumen yang lebih sering menggunakan HP untuk membuka email.

Apabila email yang dibuka melalui HP mempunyai interface yang tidak mendukung, maka bisa dipastikan bahwa mereka akan melakukan unsubscribe.

Oleh sebab itu, usahakan agar newsletter yang dikirim disajikan dengan desain yang sederhana, namun tetap responsif.

Selain itu, pastikan agar subject lines dapat terbaca walaupun muncul dari pop-up notification di HP.

9. Kirim Email di Waktu yang Tepat

Kirim Email di Waktu yang Tepat

Aspek lain yang perlu diperhatikan untuk mengurangi jumlah unsubscribe rate adalah dengan memastikan untuk mengirim pesan email di waktu yang tepat.

Hal ini karena waktu mengirim email bisa berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam menerapkan unsubscribe.

Dengan memahami waktu pengiriman email yang tepat, maka jumlah unsubscribe rate bisa lebih terkendali.

Lalu, kapankah timeline yang tepat untuk mengirimkan email newsletter kepada konsumen?

Sebaiknya, admin perusahaan mengirim surel saat hari Selasa, Rabu, dan Kamis di waktu jam kerja.

Usahakan untuk tidak mengirim email newsletter pada saat weekend karena dapat membuat konsumen merasa bahwa jatah istirahat dan liburnya menjadi terganggu karena notifikasi email.

Mengapa harus mengirim newsletter saat weekdays?

Hal ini karena pada saat jam kerja, konsumen akan lebih sering memeriksa email untuk keperluan pekerjaan.

Dengan begitu, maka impresi tentang email newsletter juga akan lebih meningkat.

Konsumen dapat membuka email penawaran dari Anda di jam-jam kerja saat mereka luang.

Jika masih ragu dalam menentukan timing yang tepat dalam mengirim email, maka sebaiknya amatilah data pada open rate email dalam jangka waktu beberapa bulan sebelumnya.

Dengan memakai catatan CTR tersebut, maka akan dipahami pola engagement konsumen saat menerima email.

Baca Juga : Apa itu engagement rate?

10. Email Mempunyai Waktu Load yang Cepat

Email Mempunyai Waktu Load yang Cepat

Dalam mengirim email, sebaiknya disajikan dalam tampilan yang ringkas dan padat informasi agar lebih cepat untuk dibaca.

Email yang mempunyai lampiran berukuran besar bisa menyebabkan loading pada saat dibuka.

Jika konsumen menerima email yang loading, hal ini dapat membuat mereka menjadi tidak sabar dan terburu-buru menutupnya, bahkan sebelum membacanya.

Tidak tanggung-tanggung, mereka juga akan merasa bahwa waktu yang mereka keluarkan terbuang sia-sia untuk hal yang tidak penting. Inilah yang membuat jumlah unsubscribe semakin bertambah.

Oleh karena itu, sebaiknya jangan melampirkan gambar newsletter yang terlampau banyak. Cukup gunakan satu atau dua gambar untuk membuat email terlihat menarik.

Lalu, pastikan agar landing page pada CTA email mempunyai koneksi yang berkecepatan tinggi agar tidak membuat konsumen membutuhkan durasi lama untuk membukanya.

Kekuatan loading email juga bisa dilakukan dengan memakai platform email yang terpercaya.

11. Membuat Personalisasi Email

Membuat Personalisasi Email

Apa itu unsubscribe rate? Apakah personalisasi email mampu meminimalisir jumlah unsubscribe rate?

Rupanya, fakta tersebut memang benar. Hal ini didukung dengan data valid yang dihimpun oleh sebuah lembaga yang memperoleh hasil bahwa personalisasi email mampu meningkatkan open rate sampai 29%.

Konsumen cenderung lebih merasa tersanjung dan tertarik jika membuka email yang menggunakan nama mereka di subjek email.

Memakai personalisasi email ternyata juga bisa dijadikan sebagai pembuktian bahwa perusahaan sungguh-sungguh mengenali konsumen mereka.

Cara menerapkan personalisasi email bisa diawali dengan mengumpulkan data identitas konsumen ketika saat mereka melakukan sign-up pada website perusahaan.

Selanjutnya, pastikan data tentang nama dan lokasi konsumen telah dicantumkan di subject atau body message email.

Email yang menerapkan personalisasi pada subject dan body email bisa meningkatkan open rate, bahkan sampai enam kali lipat dari sebelumnya.

Sekarang, Anda sudah memahami apa itu unsubscribe rate? dan cara mengatasinya.

Langkah-langkah yang sudah dijelaskan di atas dapat membantu dalam meningkatkan engagement perusahaan. Dengan begitu, diharapkan jumlah subscribe pada email perusahaan terus bertambah di kemudian hari.

Baca Juga: 9+ Kelebihan dan Kekurangan Email Bisnis untuk Usaha Anda

Bagikan:

Tags

Joko Warino

Seorang praktisi SEO (Search Engine Optimization) dari tahun 2013 yang selalu berusaha meningkatkan kemampuan seiring dengan perubahan logaritma yang dilakukan oleh Google.

Tinggalkan komentar